Moge, Antara Harapan dan Kebiasaan

Posted on Juni 8, 2012. Filed under: otomotif area | Tag:, , |

Bukan ninja 250 atau cbr 250, penulis coba beromansa dengan cbr 400 pada gambar. Sebelum dunia maya serta kedua motor berkapasitas 250 cc tersebut banyak dijumpai di jalanan, penulis sudah pernah merasakan akselerasi cbr 400. Bener kata Mbah Dukun dalam salah satu tulisan di blognya, mau eksplorasi kemampuan motor, jalanan bukan tempatnya.

Nah, cbr tadi milik teman dekat penulis yang tinggal di Bali, kebetulan singgah di Surabaya, beberapa tahun silam (lupa kapan tepatnya xixixixi)

Tanpa ba bi bu, begitu suara deruman khas moge terdengar di halaman rumah, penulis penasaran ingin mencobanya dan beruntung diperbolehkan dan akhirnya muter2x kota surabaya dah.

Pertama kali naek, enggak pake jinjit..posisi badan agak menunduk dan susahnya waktu belok. Biasa pake megapro yang leluasa kalau mau puter balik, kali ini harus lurus dulu, pelan2x baru belok…hadeuh cpd

Giliran jalan agak sepi, mulai JL Ahmad Yani sampai bundaran waru, balik lagi ke arah kota, penulis gatel ingin memutar grip gas seperti biasa.

Langsung saja, nyoman (nama teman penulis), menepuk pundak, mengingatkan cara bawa moge beda dengan motor biasanya.

Agak kaget juga sih dan akhirnya penulis menuruti nasehat tersebut. Walhasil, gak usah di gas, tuh motor juga banter sendiri. Suara mesin alus, tidak ngoyo, pengendara motor yang biasanya kencang, kali ini nampak pelan.

Tidak sampai liat speedo, penulis heran, melihat kecepatan nih motor, dibekali 4 piston berukuran seher grand oversize 100 membuat motor2x lainnya yang ada di jalanan nampak pelan, ini baru beda.

Sesudah sampai bundaran waru, gantian nyoman yang menyetir, begitu on, suara khas moge langsung terdengar dan si empunya langsung tancap gas, wuzzz

Bener-bener, kentjang, bahkan ada satu motor, terlihat dari spion sengaja mengekor dari belakang, lampu nampak bulat, ciri khas tiger.

Eh, ternyata biker di belakang kita, mengendarai scorpio, begitu sampai carrefour Achmad Yani, nyoman kembali mempersilahkan saya untuk menyetir kembali tuh motor. Dan, tau sendiri, pengendara scorpio langsung melambatkan laju motornya, dan melihat dengan seksama motor yang tengah kami kendarai malam itu, maklum lampung belakang cbr 400, dari belakang hanya terlihat 2 bulatan, mirip barang modifan.

Dari sini, tercetus pikiran, punya moge memang enak, bisa menikmati riding dengan waktu lebih cepat. Namun, untuk itu diperlukan skill dari si pengendara yang biasanya menyemplak motor dengan cc tak lebih dari 200. Antara harapan dan kebiasaan, penulis cenderung memilih cbr 400, sayang, motor tua dan sparepartnya agak jarang untuk kota seperti surabaya.

Akhirnya penulis kembali ke dunia nyata, kembali menggunakan megapro dan senang bisa naek moge walau cuma 400 cc, ya sapa tau, besok atau lusa, kesampaian untuk naik kelas…

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: